Semburan Lapindo

Semburan lumpur atau dalam bahasa orang geologi disebut Mud Volcano atau Gunung Lumpur bukan hal baru tetapi khusus semburan Lusi merupakan fenomena unik yg mengandung kontroversi. Kali ini kita coba lihat dengan membuat sebuah hipotesa detak-detak kemunculan (kelahiran) semburan lumpur di Sidoarjo yang masih muda usia ini. Hipotesa ini disusun berdasarkan data, jurnal ilmiah, diskusi yang ada serta beberapa hasil seminar yang pernah dilakukan sebelumnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa proses kelahiran semburan sejenis ini sebenarnya pernah terjadi sebelum terjadinya semburan Mei 2006. Semburan Bledug Kuwu yang fenomenal, juga gunung lumpur di Madura, dan juga Gunung Anyar yang paling berdekatan dengan lokasi Lusi. Bahkan ada kemungkinan sudah pernah direkam sejak jaman majapahit.

Data awal diambil dari presentasinya Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S. Staff pengajar di TeknikPerminyakan ITB, beliau juga sebagai Ketua Majelis Ahli IATMI (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia), serta ketua Tim Penyelidik semburan lumpur panas ini. Juga dari hasil diskusi di IAGI-net, beberapa publikasi ilmiah serta mencoba dengan olah pikir, tentunya !

Berikut perkembangan sumur BPJ-1 dari 27 Mei hingga 3 Juni 2006. Menurut Rudi Rubiandini, dalam sebuah Seminar IAGI 29 September 2006, Detak-detak kelahirannya dapat disarikan beberapa peristiwanya dibawah ini. Gambar setiap tahapan ini bisa dilihat digambar-gambar dibawah (klik saja gambar dibawah ini) : (maaf gambar tidak jelas, tumpang tindih karena dikopi sesuai aslinya pdf file)

27may07.png

28may07.png

29may07.png31may07.png

  1. 27 May 06 : Pemboran sampai kedalaman 9277 ft (Berlangsung aman tanpa masalah)
  2. TerjadiTotal Loss pada kedalaman 9297
  3. Pompa lumpur denganLCM
  4. TarikRangkaian @ 4241 ft,
  5. Terdeteksi adanya“Kick”
  6. TutupBOP
  7. Killing Well Kemudian Stuck Pipe
  8. PompaLumpur HiVisPill (40 bbl).
  9. Semburan pertama (gas dan air) keluar dipermukaan
  10. Pompa semen (150 bbl, 15.8 ppg)
  11. (maaf slide ga ada)
  12. (maaf slide ga ada)
  13. Semburan ketiga lalu Cement Plug 20 bbl, 15,8 ppg (2590’–2790’) dan 30 bbl (2100’–2250)
  14. Rig Down
  15. Well Abandonment (3 June 06)

Kesimpulan yang diambil oleh Dr Rudi Rubiandini menyatakan bahwa telah terjadi Underground Blow Out (UGBO) pernyataan yang sama dikemukakan oleh Mantan Ketua Umum IAGI Dr Andang Bachtiar dan sempat dikemukakan juga oleh Staff pengajar di Teknik Perminyakan UPN Dr.Ir Sudarmoyo, SE.Msc. Kejadian awal ini merupakan kejadian yang sering terjadi dalam sebuah aktifitas pemboran. Menurut Dr Rudi Rubiandini pula di sebuah media Republika bahwa di Indonesia ini terjadi 2-3 kali blowout dalam proses pemboran migas. Artinya proses blow out itu bukan hanya pertama kali terjadi tetapi bisa dtangani dengan tepat.

casing-set.jpgYang perlu diketahui juga bahwa sumur BPJ-1 ini bukannya tidak memasang casing, tetapi pemasangan casing dilakukan tidak seperti yang diprogramkan. Konon menurut ceriteranya karena adanya kendala operasi yang mengharuskan pemasangan casing 16 ” terlalu awal. Lihat gambar disamping ini :

Pemasangan casing yang terlalu awal ini bukan karena perbedaan formasi. Terlihat bahwa lithologi yang diperkirakan tidak mengalami perbedaan mencolok untuk batuan-batuan diatas 2365 ft.

Namun dibagian bawah terlihat adanya perbedaan atau missed interpretasi yang pernah saya jelaskan disini dan disini sebelumnya, mengapa hal ini bisa terjadi. Namun dibagian bawah memang sangat mungkin = telah terjadi missinterpretasi . Batuan yang berwarna biru (batugamping) tidak diperkirakan dijumpai namun dijumpai batuan kuning (batupasir), sehingga ada lubang tidak di-casing hingga kedalaman 9297 ft. Seperti yang dijelaskan Pak Rudi padawaktu mempresentasikan hal ini, bahwa tidak dipasangnya casing ini bukanlah penyebab utama, karena secara tehnis (engineering) masih diperbolehkan. (catatan saya : kalau tidak terjadi apa-apa).

Nah selanjutnya disusun sebuah hipotesa yang bersifat kronologi untuk menjelaskan detak-detak terjadinya semburan lumpur panas ini. Hipotesi ini belum tentu benar, harus diuji dengan pengukuran detil. Apakah benar air dari Gunung Penanggungan menjadi sumber air yang keluar selama ini.

Sebelum kejadian semburan Lusi (Pre Disaster)

Klik memperbesar gambar

Pada awalnya di lokasi Porong tidak terlihat aktifitas mudvolkano sehebat yang kita lihat saat ini. Namun gejala-gejala regional dengan unculnya mudvolkano memang jelas teramati baik disekitar Porong masa purba, maupun juga jaman majapahit seperti yang ditulis disini sebelumnya.

Pada saat itu proses hydrologi terjadi seperti biasa, yaitu masuknya air kedalam tanah terjadi dan diperkirakan berasal dari Gunung Penanggungan masuk kebawah kedalam tanah hingga mendekati sebuah hotspot atau sumber panas. Proses ini sangat diduga membentuk jebakan uap panas atau hydrothermal ini terjadi tentunya sudah sejak lama. Proses hydrothermal ini mungkin tidak ada di bagian utara Jawa Timur ini, karena proses hydrothermal ini hanya terjadi berdekatan dengan gunung api.

Selain terjadi proses pemanasan air tanah ini, diatas jebakan hydrothermal ini terdapat batugamping Formasi Kujung yang memiliki tekanan cukup tinggi. Pengukuran di sumur Porong-1 (7 Km sebelah timur dari lokasi Lusi), tekanan fluida disini sekitar 9000 psi dengan kedalaman sekitar 9000 kaki atau sekitar 3000 meter.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa adanya tekanan besar di Formasi Batugamping Kujung, serta adanya pola-pola rekahan (fractures) yang sudah ada sebelum kejadian. Pola-pola ini dikenali dari data seismic. Namun sepengetahuan saya, sebelum kejadian tidak ada yang memetakan adanya rekahan atau patahan Watukosek yang memanjang hingga lokasi pengeboran.

Awal pengeboran (Early drilling operation)

slide2.gif Seperti yang dituliskan oleh Pak Rudi bahwa tidak terjadi hal-hal yang serius ketika melakukan pengeboran awal. Hanya terjadi pemasangan selubung yang terlalu dini (Premature set) seperti yang digambarkan diatas. Hal ini mungkin karena adanya tekanan yang tidak terduga dibagian atas sehingga harus dilakukan pemasangan pipa selubung (casing) lagi walaupun baru mengebor sekitar 2000 feet (kaki), atau sekitar 1000 feet dari casing sebelumnya di 1300 feet.

Hingga kedalaman 9277 feet pengeboran masih tergolong normal. Pada tanggal 27 May 2006 itu di Jogja sedang terjadi gempa besar dengan kekuatan 6.3 SR (USGS). Ada yg menduga gempa ini menyebabkan likuifaksi, namun dibantah dengan perhitungan yg tertulis disini juga gambar yang dilampirkan Pak Koesoema ketika membuat surat terbukanya disini. Masalah ini masih kontroversi, kita kesampingkan dahulu kali ini.

Kondisi kritis saat pengeboran (Critical moment on drilling)

slide3.gif Kondisi kritis terjadi ketika drilling mencapai kedalaman 9297. Saat itu terjadi kehilangan lumpur dan diikuti dengan kick (lost-gain).

Operasi yang terjadi saat mengalami lost-gain inilah yang merupakan kondisi kritis pengeboran. Penanganannya memerlukan keahlian drilling engineer yang berpengalaman menurut Dr Rudi Rubiandini.

Menurut Dr Andang Bachtiar, penanganan yang kurang tepat pada saat kritis ini yang diduga menyebabkan pecahnya batuan dibawah (underground fracture (UGBO), mungkin saat penyemenan, atau saat kill well. Dr Rudi Rubiandini juga meyakini terjadinya UGBO seperti yang tertulis di harian Kompas, 19 Agustus 2006.

Awal kelahiran (Underground Blow Out - UGBO)

slide4.gifPada saat terjadi pecahnya batuan akibat UGBO, maka terjadi aliran fluida dari batuan dibawah yang bertekanan tinggi masuk ke batuan yang bertekanan rendah diatasnya.

Menurut teori dalam pengeboran, zona terlemah dalam pengeboran terletak pada kedalaman dekat dengan casing shoe atau sepatu pipa selubung. Yaitu sekitar kedalaman 3500 feet. Kedalaman ini sebelumnya sudah diukur kekuatannya sebesar 14 ppg.

Indikasi terjadinya blow out pada awal ini diindikasi oleh Dr Rudi Rubiandini dalam seminarnya di IAGI bulan September 2006, “Saat erupsi pertama, yang keluar adalah air–asin–panas dari kedalaman 6150 –6500 ft yang naik sambil menggerus shale ataur eactive-shale atau mud-diapir pada kedalaman 6100 –1700 ft”. Indikasi air asin ini menunjukkan bahwa air berasal dari laut yang kemungkinan besar merupakan air yang berasal dari Batugamping Kujung (Formasi Kujung).

tingay-2005.gifMekanisme semburan seperti ini pernah terjadi di Brunei dimana Shell melakukan pengeboran di laut yang menyebabkan semburan selama puluhan tahun. Tingay (2005) meneliti geomechanics di daerah Brunei Darussalam dan menggambarkan mekanisme UGBO seperti yang tergambar disebelah kanan ini.

Proses transisi (Transition Process)

slide5.gifPada saat transisi inilah terjadi penurunan tekanan pada fluida Formasi Kujung. Tentusaja. Formasi Kujung ini memilki fluida yang bertekanan hingga 9000 psi dari pengukuran di Sumur Porong-1 yang terletak 7 Km dari okasi sumur Banjarpanji-1.

Secara mudah dapat dimengerti bahwa akan terjadi selisih tekanan yang cukup besar ketika fluida di Formasi Kujung ini mengalir keatas, sambil terus menerus menggerus shale atau batulempung yang dilewatinya.

Hingga pada suatu saat batuan yang memisahkan Formasi kujung dengan sumber hydrothermal dibawahnya tidak kuat lagi menahan selisih tekanan.

Sesuai dengan perhitungan sebelumnya yang dilakukan oleh ahli-ahli dari Lapindo ketika memperkirakan bahwa fluida ini akan habis selama 3 bulan. Dan benarlah dugaan ini, yang terjadi setelah tiga bulan adalah .. ledakan hydrothermal !! Ledakan ini terjadi pada tanggal 27 Agustus 2006, kira-kira 3 bulan setelah awal semburan.

slide12.gifSangat beruntung tim penanganan pada saat awal yang dipimpin Pak Rudi Rubiandini dalam team relief well ini memiliki pengukuran yang cukup detil dari hari-kehari dengan mencatat besarnya flowrate (debit lumpur ini). Gambar disebelah ini sangat jelas menunjukkan kronologi tersebut.

Sebelum terjadi ledakan hydrothermal juga tercatat adanya runtuhan bawah permukaanyang ditandai dengan berhentinya semburan (intermitten flow) Lihat tanda panah hijau dari catatan asli Dr Rudi Rubiandini disebelah kiri ini.

Paling tidak harus ada pembelajaran sampai saat ini, yaitu ketika terjadi aliran yang mulai “batuk-batuk” (intermitten) maka dapat diartikan atau diinterpretasikan telah terjadi runtuhan dibawah sana. Setelah terjadi runtuhan dibawah permukaan maka akan segera diikuti terjadi amblesan dipermukaan.

Tentunya masih ingat bahwa semburan sempat terhenti selama 30 menit pada tanggal 20 Maret 2007 yang akhirnya diikuti dengan amblesan setempat yang menyebabkan lubernya tanggul sebelah barat hingga menutup jalan raya Porong sejak pekan lalu.

Proses akhir (Late process)

slide6.gif Yang terlihat saat ini adalah proses hydrothermal dimana keluarnya semburan uap panas yang berasal dari sumber dapur hydrothermal yang berada dibawah Formasi Kujung.

Air yang keluar saat ini sudah berbeda dengan yang keluar pada saat awal semburan. Air yang keluar bukanlah air asin (air laut) yang terjebak pada Batugamping Kujung lagi.

Setelah terbentuknya proses ini jelas terlihat bahwa hanya awal 3 bulan itulah yang merupakan golden time period. Dan sepertinya Dr Rudi Rubiandinipun sudah terlambat menghambat kelahiran Lusi yg semakin memanas ini.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa di Mud Volkano lainnya tidak berkembang menjadi proses hydrothermal seperti Lusi ? Ya, seperti kita ketahui bahwa sumber panas tentusaja dari proses volkanisme. Mud volkano atau gunung lumpur di Madura serta di Bledug Kuwu sangat jauh dari aktifitas volkanisme. Sehingga ketika terjadi atau terbentuk semburan lumpur ini tiak berkelanjutan. Demikian juga dengan UGBO yang merupakan kejadian yang sering terjadi dalam pengeboran di migas. Dimana seringkali pengeboran migas ini berjauhan dengan aktifitas gunung api.

Sumber fluida berdasarkan atas suhu serta penurunan suhu yang dibuat oleh D Rudi Rubiandini diinterpretasikan ulang. Karena saat ini diketahui adanya kemungkinan sumber lain dari air tersebut maka diperkirakan sumber hydrothermal berada pada kedalaman dibawah 9000-100hydrothermal-source.jpg00 feet.

Harus diuji kebenarannya.

Hipotesa diatas tentunya masih bukan berupa bukti kebenaran. Masih banyak yang harus dilakukan untuk dibuktikan. Misalnya bagaimana dengan kronologi atau laju amblesan, apakah mendukung atau menolak hipotesa kronologi detak-detak kelahiran lusi ini. Mungkin Pak Hassanudin dari geodesi ITB dapat menyumbangkan data laju amblesan dari wkjtu-kewaktu. Kemudian bagaimana dengan dugaan air dari Gunung Penanggungan ini ? Ini bisa dibuktikan dengan uji laboratorium terhadap air yang keluar saat ini, seperti yang disarankan Dr Lambok, seorang ahli hydrologist. Dan masih banyak lagi uji saintifik terhadap hipotesa detak-detak kelahiran Lusi ini.

Referensi :

  • Presentasi Dr Rudi Rubiandini pada seminar di IAGI tanggal 29 September 2006.
  • Present-day stress orientation in Brunei: a snapshot of ‘prograding tectonics’ in a Tertiary delta, Journal of the Geological Society, Jan 2005 by Tingay, Mark R P, Hillis, Richard R, Morley, Chris K, Swarbrick, Richard E, Drake, Steve J
  • Koran, Media, diskusi IAGI-net, dll.

Leave a Reply